Aku seorang guru.
Lihatlah...seharian,
Aku telah diminta menjadi seorang aktor,
teman, penemu barang hilang, psikologi,
pengganti orang tua, penasihat,
hakim, pengarah, motivator
dan pembimbing ruhani murid-muridku..
Meski tersedia peta,
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku.
Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya memiliki diri mereka sendiri
untuk belajar,
Disclaimer : I donn't own this poem
A/N
Terimakasih untuk puisi yang telah diadaptasi dari John Wayne Schlatter dalam bukunya Chicken Soup For Teacher Soul. Terimakasih untuk setiap kata dalam puisi ini yang telah menertawakan dan menyindir egoku. Ternyata ada hal yang lebih penting daripad ego dan kebanggaan diri. Harusnya kusadari itu.. Bisa-bisanya aku mempunyai niatan untuk ikut SNMPT lagi..
Tapi untuk apa...??
Demi sebuah ego...?!
Kebanggaan diri...?!
Demi sebuah impianku yang akan mematahkan harapan-harapan ibu...?!
Bukankah seharusnya setiap impian tak boleh seegois ini...
Harusnya aku bangga karena Ibu telah mempercayakan dan menggantungkan harapannya.
Ya! Aku bangga..!!
Maafkan aku bu.. aku akan berusaha untuk menjalaninya dengan ikhlas.. menjalani mimpimu yamg kau gantungkan padaku.. Meski terkadang tanpa kenaifan aku mungkin juga masih akan merindukan impianku sendiri.. Tapi mungkin juga akan kutemukan dalam profesi ini..
Impianku dalam profesi guru yang Universal..
Love U mom ^_^
Bagai sebuah peta di tengah-tengah labirin hidupku, terimakasih telah menuntunku dalam gelap.
All about pendidikan
Selasa, 03 Mei 2011
Selasa, 19 April 2011
Guru, elemen yang terlupakan
Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.
Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.
Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
Langganan:
Postingan (Atom)